Awalnya saya tak berniat
sama sekali menulis tentang pandemi covid 19 ,
karena sudah banyak pembahasan mengenai hal ini dan terlebih lagi tak
ada pengetahuan saya mengenai hal ini kecuali hal hal sepele tentang kota asal virus dan kapan virus ini muncul. Namun karena begitu banyaknya
seliweran pandangan teman2 mengenai hal ini, baik yang sifatnya manipulatif dan
cenderung bikin gaduh maupun yang
faktual, membuat saya geram untuk ikut serta meluapkan unek-unek saya. Melalui
tulisan ini saya tidak bermaksud membagikan pikiran saya mengenai hal ini,
terlebiih agar dibaca orang, namun lebih pada pelampiasan pikiran saya pribadi
agar tidak ndongkol melihat banyak orang merasa paling mengerti tentang Pandemi ini dan cenderung menyepelekan.
Sejak munculnya pertama kali
dikota Wuhan pada akhir tahun 2019 , tercatat sudah ratusan ribu orang disluruh
penjuru dunia terinfeksi. Setidaknya 8 ribuan orang meninggal , dan puluhan
ribu lainnya sembuh. Sebagai orang awam
yang punya keluarga diberbagai kota tentu saya cukup mawas dengan mewabahnya
virus ini. Apalagi berkaca dari peradaban sebelumnya bahwa pandemi
semacam ini (Influenza ,1918)
pernah menghantui Dunia kala itu, yang dikabarkan merenggut puluhan juta
jiwa diseluruh dunia.
Sebelum menulis ini saya
sempat membaca pesan dari guru saya bahwa dengan keterbatasan pengetahuan kita
mengenai virus ini, seyogyanya kita meneliti secara sederhana tentang Apa itu
Covid 19, dari mana asal sejatinya,
mengapa hari ini disebarkan? Atas izin siapa mahluk tak kasat mata ini mewabah
keseluruh dunia? bagaimana Akibatnya, dan apa penyebabnya? Secara Teologis, Apakah ada hubungannya
dengan Tuhan? Bagi siapa saja terdampak virus ini, ternilai apakah wabah ini?
Ujian atau Musibahkah?
Berbekal
pertanyaan-peranyaan itu dan keyakinan saya tentang sangkan paraning kehidupan,
maka tak ada pilihan bagi saya kecuali percaya
bahwai semua ini harus kita terima sebagai ujian agar
tidak sembrono terhadap apa saja ciptaan Tuhan. Agar supaya kita belajar
bahwa sesuatu yang kecil , bahkan lebih kecil dari lalat, belum pasti bisa
dikalahkan oleh yang besar.
Maka ditengah kewaspadaan
terhadap covid 19 ini terkadang saya masih heran, melihat orang yang gemede
rumongso (GR) merasa paling beriman dan disayang Tuhan. Menyepelekan ini itu
,hanya karena ia belum mengalaminya. Lalu tegas berkata “ Corona hanya hal
sepele yang dibesar-besarkan, tak perlu ditakuti, dan hanya takutlah pada
Allah”.
Dengan fenomena ini tentu
saya berusaha berperasangka baik untuk tidak menilai bahwa itu suatu
ketakkaburan dan kecongka’an. Mungkin mereka yang berkata demikian memang sejatinya
kuat imannya dan lebih pada ingin meningkatkan semangat ubudiah ditengah
pagebluk covid 19. Namun alangkah baiknya dengan rasa kuat iman itu, kita juga
menjaga sikap untuk tetap waspada pada apa saja yang berpotensi mengganggu
kemaslahatan bersama. Kita maksimalkan anugrah akal kita untuk berikhtiyar
semampu kita, agar supaya sebanyak mungkin orang terhindar dari wabah penyakit
ini. Karena bukankah kita yang merasa takut pada Allah dan tidak takut atas
kematian, adalah kita yang juga siap merawat dan melanjutkan kehidupan?
Dan akhirnya, meskipun masih
banyak orang berkeliaran dengan jumawa membanggakan kehebatannya, saya sebagai
manusia yang sadar atas kelemahan, berdo’a agar Tuhan memberi pertolongan
sehingga wabah covid 19 segera bisa diatasi. Kita bisa hidup kembali seperti
sedia kala, berkumpul bersama keluarga, melanjutkan sisa usia dengan mawas diri
sebesar-besarnya.
Pedalaman Indonesia,
20 Maret 2020