Jumat, 20 Maret 2020

Iman dan Pagebluk Covid 19


Awalnya saya tak berniat sama sekali menulis tentang pandemi  covid 19 ,  karena sudah banyak pembahasan mengenai hal ini dan terlebih lagi tak ada pengetahuan saya mengenai hal ini kecuali hal hal sepele  tentang kota asal virus dan kapan virus  ini muncul. Namun karena begitu banyaknya seliweran pandangan teman2 mengenai hal ini, baik yang sifatnya manipulatif dan cenderung bikin gaduh  maupun yang faktual, membuat saya geram untuk ikut serta meluapkan unek-unek saya. Melalui tulisan ini saya tidak bermaksud membagikan pikiran saya mengenai hal ini, terlebiih agar dibaca orang, namun lebih pada pelampiasan pikiran saya pribadi agar tidak ndongkol melihat banyak orang merasa paling mengerti tentang   Pandemi ini dan cenderung menyepelekan.

Sejak munculnya pertama kali dikota Wuhan pada akhir tahun 2019 , tercatat sudah ratusan ribu orang disluruh penjuru dunia terinfeksi. Setidaknya 8 ribuan orang meninggal , dan puluhan ribu lainnya sembuh.  Sebagai orang awam yang punya keluarga diberbagai kota tentu saya cukup mawas dengan mewabahnya virus ini. Apalagi berkaca dari peradaban sebelumnya bahwa  pandemi  semacam ini (Influenza ,1918)  pernah menghantui Dunia kala itu, yang dikabarkan merenggut puluhan juta jiwa diseluruh dunia.  

Sebelum menulis ini saya sempat membaca pesan dari guru saya bahwa dengan keterbatasan pengetahuan kita mengenai virus ini, seyogyanya kita meneliti secara sederhana tentang Apa itu Covid 19,  dari mana asal sejatinya, mengapa hari ini disebarkan? Atas izin siapa mahluk tak kasat mata ini mewabah keseluruh dunia? bagaimana Akibatnya, dan apa penyebabnya?  Secara Teologis, Apakah ada hubungannya dengan Tuhan? Bagi siapa saja terdampak virus ini, ternilai apakah wabah ini? Ujian atau Musibahkah?

Berbekal pertanyaan-peranyaan itu dan keyakinan saya tentang sangkan paraning kehidupan, maka tak ada pilihan bagi saya kecuali percaya  bahwai semua ini harus kita terima sebagai  ujian  agar  tidak sembrono terhadap apa saja ciptaan Tuhan. Agar supaya kita belajar bahwa sesuatu yang kecil , bahkan lebih kecil dari lalat, belum pasti bisa dikalahkan oleh yang besar.

Maka ditengah kewaspadaan terhadap covid 19 ini terkadang saya masih heran, melihat orang yang gemede rumongso (GR) merasa paling beriman dan disayang Tuhan. Menyepelekan ini itu ,hanya karena ia belum mengalaminya. Lalu tegas berkata “ Corona hanya hal sepele yang dibesar-besarkan, tak perlu ditakuti, dan hanya takutlah pada Allah”.
Dengan fenomena ini tentu saya berusaha berperasangka baik untuk tidak menilai bahwa itu suatu ketakkaburan dan kecongka’an. Mungkin mereka yang berkata demikian memang sejatinya kuat imannya dan lebih pada ingin meningkatkan semangat ubudiah ditengah pagebluk covid 19. Namun alangkah baiknya dengan rasa kuat iman itu, kita juga menjaga sikap untuk tetap waspada pada apa saja yang berpotensi mengganggu kemaslahatan bersama. Kita maksimalkan anugrah akal kita untuk berikhtiyar semampu kita, agar supaya sebanyak mungkin orang terhindar dari wabah penyakit ini. Karena bukankah kita yang merasa takut pada Allah dan tidak takut atas kematian, adalah kita yang juga siap  merawat dan melanjutkan kehidupan?

Dan akhirnya, meskipun masih banyak orang berkeliaran dengan jumawa membanggakan kehebatannya, saya sebagai manusia yang sadar atas kelemahan, berdo’a agar Tuhan memberi pertolongan sehingga wabah covid 19 segera bisa diatasi. Kita bisa hidup kembali seperti sedia kala, berkumpul bersama keluarga, melanjutkan sisa usia dengan mawas diri sebesar-besarnya.

Pedalaman Indonesia, 20 Maret 2020

Sabtu, 14 Maret 2020

PRODUK KAUM TERPELAJAR


masih hangat dingatan ketika kita jadi mahasiswa, saat-saat ketika jiwa muda bergelora, haus eksistensi dan cita-cita.  Menyadari hal-hal baru, tema-tema besar tentang kehidupan, ekonomi, politik, dan sosial budaya masyarakat. Saat dimana kita dengan percaya diri mengaku “ Agen Perubahan”. Bagi  yang saat jadi pelajar ngaku  seorang aktivis, tentu kenal dan karib dengan organisasi ekstra mahasiwa, baik yang nafasnya pergerakan kebangsaan, maupun yang berlabel teologis. Belajar memproses diri dan mengisi hari-hari dengan diskusi-diskusi kritis ala aktivis. Menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang saat itu kita nilai positif.

Yah sedikit banyak memang proses itu berpengaruh dalam kehidupan dikemudian hari. Apalgi dalam realita dunia kerja, kadang kita terlempar dalam kondisi geografis yang  kultur budayanya lain sama sekali dengan pengalaman hidup kita sebelumnya. berbaur dengan orang-orang multikultur yang perbedaanya tidak hanya warna kulit, namun juga keyakinan, polapikir , kebiasaan  dan kecenderungan sikap, Yang tidak jarang menmbulkan benturan-benturan dan berujung konflik.

Sebagaimana saat kita jadi pelajar, tema-tema besar tentang kehidupan pun akan muncul kehadapan kita. Bedanya , dulu tema-tema itu muncul hanya sebagai bahan diskusi namun saat ini tema itu berbenturan langsung dengan realitas kehidupan kita. Bahkan saking penatnya kita dengan benturan itu, terkadang kita lupa dan menyepelekan tema-tema yang dulunya kita  anggap besar itu.

Nah dalam kondisi seperti itulah produkmu sebagai kaum terpelajar perlu digunakan. Namun produk belajarmu bukan lagi kelihaian bibir dalam mebentuk kata kata kritis sebagamana sering kamu ucapkan ketika diskusi dengan kawan aktivismu, melainkan kebijaksanaanmu dalam menghargai ekosistem barumu, kesantunanmu dalam memaklumi kebiasaan lingkungan kerjamu, dan tindakan-tindakan yang substansinya tidak merugikan sesamamu.

bahkan ketika ada kebiasaan lingkungan barumu yang berefek negatif  pada mu, kamu tidak cukup layak untuk membalasnya sebagaimana yang terjadi kepadamu. Mengapa? Karena dari awal kau menyadari bahwa dirimu adalah orang terpelajar, yang menghabiskan banyak waktu untuk mmpelajari bagaimana sepantasnya manusia bertingkah laku. 
Dan kusadari kata-kata rumitku diatas, tak  cukup bisa menggambarkan secara jelas apa sejatinya produk kaum terpelajar, kecuali hal-hal sepele yang saya lihat, dengar, rasakan dan saya rangkaikan dalam kalimat terahir berikut.

Bukan seberapa banyak orang mengakui prestasimu, namun seberapa banyak orang merasakan manfaatmu. Membangun identitas memang penting, namun jauh lebih penting  maksimalkan daya personalitas. Karena pada akhirnya hidup bukanlah tentang siapa kita, namun lebih pada bagaimana kita.

Pedalaman Indonesia, 2 Maret 2020

Senin, 10 Februari 2020

Remang-Remang Wajib Mubah nya Kehidupan


Sehabis jamaah Magrib di surau kampungnya, tarjikun segera pulang  kerumah, ia ingat bahwa saudarinya yang tinggal di kota lai berencana menelopannya. Entah apa yang akan di bicarakan , ia tak tahu.

Tak lama setelah ia  berdiri di teras kecil rumahnya,berderinglah handpone tarjikun, segeralah ia angkat..
“Hallo mbak?”
Hallo, Kun,
“kenapa Mbak , kok kelihatannya ada berita penting?”
“Iya ini kun, itu loh mbak yu mu Khotijah, masak dia Hamil lagi, padahal anak keTiganya baru berumur  3 Tahun. Sudah tak kasih  tahu saban hari, kalau berkeluarga , mbok di pikirkan matang-matang, biar nanti anak-anak hidup sejaahtera, ini anak kecil-kecil, malah hamil lagi”
Dengan Nada agak Tinggi Tarjikun menanggapi

“Loh,  yang dialami mbak Khotijah gak ada yang salah, apa  buruknya hamil lagi mbak?ini yang salah malah sampean mbak”
“loh kamu ini gimana, nanti bagaimana dengan masa depan anak-anaknya?, kamu tahu hidup kedepan bakal lebih susah?”

Saudara tarjikun, adalah gambaran kita semua, ia menganggap kehamilan saudara lainnya adalah sebuah kerugian, padahal apa buruknya sebauah kehamilan. Sekalipun seseorang  telah beranak tuju?

Saudara Tarjikun  bukan pula orang yang tak menganut Tuhan,  setiap hari ia melakukan perintah-perintah agama. Tapi apa yang salah?
Tak ada

Ia hanya mengkhawatirkan masa depan sanak familinya. Ia sekedar ingin agar saudaranya hidup sejahtera dengan pengaturan jumlah anak, ia hanya mencoba mengingatkan kita semua, bahwa hidup lebih baik dengan perencanaan yang matang. Ia hanya korban lingkungan peradaban yang mengaggap puncak kesuksesan hidup adalah kesejahteraan secara materi.

Padahal alangkah baiknya, dengan pikiran kita tentang perencanan hidup, diiringi pula dengan kekritisan terhadap pikiran kita sendiri.
Kalau kita bertuhan, maka yang menjadi seluruh pertimbangan hidup kita adalah kaca mata pandang Tuhan. Mana Yang di wajibkan Tuhan, dan mana yang Disunahkan Tuhan, dan mana yang di bolehkan Tuhan, pun mana yang dikharamkan Tuhan.

Kalau Sejahtera, hidup damai, Kaya, masyhur,  adalah kewajiban, maka tugas kita adalah mengejarnya. Tapi kan ternyata yang wajib atas hidup ini  bukan itu semua?

Miskin bukan larangan, Menderita bukan sesuatu yang haram, bodoh bukan kebaikan, pun cerdik bukan pasti juga keburukan. Kita boleh mengupanyakan kemakmuran, tapi yang wajib kita jalankan adalah keadilan. Kita boleh meraih keindahan, tapi yang wajib diutamakan adalah kebenaran. Hidup kita sekarang hampir saja salah  orientasi, kita diam-diam menyembah dan mewajibkan  keindahan, memuja kenyamanan, dan mencita-citakan kemakmuran. Entah  itu cara mendapatkannya lewat keadilan atau tidak, melalui jalan yang benar atau tidak. Kita sudah memburamkan mana wajib, mana sunnah, mana khalal, mana mubah, dan mana kharam.

Kita terjebak pada pikiran yang maha dunia, kita bergerak berfikir, berencana hanya berdasarkan pada rasa ingin atau tidak ingin, enak atau tidak enak, untung atau tidak untung secara dunia. Padahal kalau kita percaya Tuhan, Dunia hanya ladang penggembalaan kambing dan kuda jiwa kita, untuk kemudian digiring pulang bila senja sejarah hidup kita telah datang.

Tarjikun dan Saudaranya adalah kita semua,
Keinginan saudari Tarjikun terhadap kesejahteraan masa depan bukanlah hal yang kharam, yang dilarang adalah mengejar kesejahteraan dengan menghalalkan segala cara, mewajibkan kenyamanan dengan memubahkan kelicikan. Itu lah yang kharam.


Lingga , 30 April 2018/ 15 Sya’ban 1437 H

Kamis, 14 November 2019

Cita-Cita Sundusin


Suatu hari di tengah tugas kerja di pedalaman Riau, saya bertemu dengan pemuda perantau dari daerah selatan jawa tengah. Kuliat sorot matanya yang tajam dengan kulit tubuhnya yang hitam legam, tampaknya ia adalah sang pekerja keras. Beberapa waktu kami sempat berbincang ringan hingga akrab satu sama lain, sampai suatu saat saya pernah bertanya dengannya perihal “Apa Cita-Cita mu waktu Kecil?”

Dan hari itu kusadari untuk kesekian kalinya bahwa Tuhan menaqdirkan manusianya dengan berbagai keunikan berpikir, psikologis, dan berbagai laku hidup.  Sundusin bercerita panjang perihal kehidupan  masa kecil dan beberapa keyakinan hidupnya. Tentu saja yang saya tulis ini tidak sepenuhnya mewakili kisah hidupnya apalagi keseluruhan psikologisnya , hanya tulisan ringan tentang pandangan saya terhadapnya yang tentu saja sangat subjektif.
Bagi Sundusin memandang cita-cita adalah  hanya sebatas keinginan yang sifatnya  kekanak-kanakan. Maka tak wajib tercapai. Ia beranggapan bahwa orang bercita-cita adalah orang yang  fokus dengan kantong berasnya sendiri  ditengah jutaan mahkluk yang juga mencari kantong berasnya masing-masing.  ia hampir saja memandang hina  melihat amat banyak orang menjalani hidup berdasarkan keinginan pribadi yang pangkalnya adalah cita-cita. Dan berdasar cita-cita itu mereka egois satu sama lain.

Ditengah ribuan orang didesanya, pikiran sundusin terbilang sangat frontal berbeda diantara orang-orang lainnya. Mungkin pandangan sundusin yang semacam ini juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya yang tak pernah mengajari untuk hidup bercita-cita. Ia hidup dikeluarga petani miskin yang menanamkan nilai-nilai amat sederhana: yaitu hidup berdasar “ apa kewajiban manusia hidup, dan mana yang lebih penting dalam hidup ini untuk dijalani”. Ajaran nilai inipun bukan ilham yang didapatkan keluarga ini dari sang Wali dalam mimpi, melainkan karena garis kemiskinan yang diputuskan Tuhan untuk dilalui. Sehingga mereka tak mampu memberi kesempatan anak-anaknya berkeinginan ini dan itu.

Hingga remaja sundusin selalu ingat ajaran penting bapaknya, bahwa hidup harus mengaji, bekerja,  berdo’a agar hidup mulia . Bersama kakak dan adiknya, ia menjalani masa kecil yang jauh dari keinginan-keinginan, bahkan lebih banyak keterbatasan. Namun di tengah keterbatasan itu ia tetap tidak merepotkan siapa saja apalagi merugikan sesama manusia.
Maka amat kagetlah ia ketika remaja, memasuki dunia sekolahan modern yang isinya banyak ambisi-ambisi besar. cita-cita mentereng jadi president, jadi milyader, jadi DPR, jadi ini dan jadi itu. Ia tak mengerti mengapa seorang harus sukses, dan wujud sukses itu adalah kebesaran , kehormatan yang puncaknya kekayaan. Ia tak mengerti mengapa sekolahan-sekolahan mengajari siswa-siswinya  menjadi manusia-manusia yang haus akan kesan, lewat prestasi-prestasi yang esensinya permukaan.

Pada akhirnya sundusin tak melanjutkan sekolah nya, ia memilh bekerja merantau menjemput taqdirnya tanpa harus mabuk cita-cita. Ia hanya lulusan SD yang sempat 1 tahun mengenyam pendidikan SLTP. Di sini ia bekerja apa adanya, kadang kulihat ia menjadi buruh angkut kayu, kadang kulihat ia bekerja di Tambak udang, dan tekahir ku dengar ia bekerja menjadi awak kapal penangkap ikan yang berlayar hingga batas  perairan laut china selatan.

Dalam sepak terjang  petualangan hidupnya, Sundusin agaknya bukan tokoh yang bisa dijadikan tauladan  buat anak muda, apalagi bila merujuk atas standart dunia modern sekarang ini. Sundusin hanyalah potret manusia masa lampau yang terjebak di tengah rimba modernitas zaman. Keluarganya adalah potongan peradaban masa lampau dengan alur kultur yang kental dengan kearifan dan kenyelenehannya sendiri, lain dari keluarga kebanyakan zaman sekarang. Mereka menatap masa depan tanpa ketakutan. Mereka tak takut miskin, karena toh sudah berpuluh-puluh tahun mereka menikmati kemiskinan. Mereka tak takut kerasnya perjalanan hidup, karena kaki hidup mereka sudah mati rasa menikmati terjalnya perjalanan. Dan apakah keluarga ini Sakinah  mawadah , wa Rahmah?  Entahlah biar Tuhan yang Tahu...
Ketika kupastikan lagi “ Apa cita cita mu Sin?”
Ia tersenyum dan menjawab pelan “ Bahagia Mengalami Taqdirku”

Lingga, 4 Desember 2017

Minggu, 31 Maret 2019

Mengalir tidak seperti Tai


Sembari nyruput teh susu yang baru dipesannya tadi, sudrun bergumam pada sarkidi, “ iya di, kita itu mengalir saja, gak usah pusing ini, pengen bertindak itu, berinisiatif ini itu”.

“iya ya kang” timpal sarkidi
“Wong  dulu saya juga gak tahu kalau bakal kerja ditempat ini, ketemu sampean, kang di”
“tapi kang”
“Tapi apa?”
“Kalau kita mengalir saja, terus buat apa Tuhan memberi kita tangan, kaki, mata, telinga, pikiran dan hati”
“ ya buat mengalir”
“mengalir?”
“ iya mengalir, bukan mengalir macam tai disungai depan rumah sampean ya kang”
“terus?”

“Kita itu terkadang bingung sedndiri dengan anggapan-anggapan kita sendiri tentang hidup kang, kita ini merasa tersiksa dengan kenyataan hidup kita, kita sering mendambakan kenyataan-kenyataan lain yang jelas belum pasti terjadi, atas kebingungan itu kita berinisiatif ini itu, bertindak kesana kesini agar menemukan kenyataan yang sesuai dengan keinginan kita.”

“hmmm”

Padahal untuk apa kita sibukkan hati dan pikiran kita untuk meratapi kemiskinan? Bukankan yang perlu kita gerakkan adalah kaki, dan tangan dengan sedikit pikiran? Selebihnya kita alirkan masa depan yang pasti datang dari Tuhan. Biarkan Dia menjalankan ketentuan terbaik atas ciptaannya menurut –Nya. Bukankah  tak ada sesuatu yang terbaik kecuali menurut-Nya?

“ iya kang, tapi kalau saya miskin, kan anak dan istri saya sengsara?”
“ ya kalau udah miskin, jangan tambah miskin dong di hadapan Tuhan? Udah miskin, stress pula oleh kemiskinan”

“Terus?”
“begini kang, Kita ini takut hidup kita didunia akan selamanya miskin, lalu atas ketakutan itu kita berinisiatif mencari kerja ini, usaha itu, nyenggol sana, nyerobot si A dan Si B. hingga kita lupa bahwa Tuhan telah memberi rahasia hidup di dunia untuk mengalir. Mengalir pada muara firman “ tidak ku ciptakan jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” . kita boleh saja bekerja sana-sini pakai kaki, pakai tangan, pun juga pikiran dan hati, tapi kita kan sejatinya mengalir dalam siklus sungai Innalillahi wainna ilaihi Roji’un? Dari hulu penciptaan Tuhan dam kembali ke muara yaitu Tuhan itu sendiri. “

Setelah berkata panjang lebar, sudrun menoleh kepada sarkidi
“ loh piye leh kang di, kok malah cengengesan?”
“hehehe”
“ jadi kang?”
“hehehe” gak tahu kang, saya bingung
Lingga, 4 januari 2018

Sabtu, 23 Maret 2019

Sawang Sinawang, Mimpi Hasan dan Jali


Sawang Sinawang, Mimpi Hasan dan Jali

     Di tengah damai sayup kampungnya, di tengah kampong pesisir kepulauan riau, diam-diam hasan mendambakan peradaban desanya yang semakin modern. Modern sumber daya manusianya, canggih generasi mudanya, dan maju keseluruhan sistem kepemerintahan desanya, termasuk pula bangunan jalan dan infrastuktur lainnya.
   Di keheningan beranda rumahnya, ia berseloroh cerita tentang betapa gigihnya ia menyuarakan pendapat  terkait birokrasi desa yang dianggapnya kurang inovatif. Ia mendambakan mempunyai lingkungan masyarakat yang kritis akal pikirannya terhadap kehidupan. Yang itu semua dianggapnya bagian penting dari kemajuan negri.
Kaca mata pandang pikiran Hasan menganggap bahwa kemajuan masyarakat di luar sana adalah amat lebih baik dari pada  lingkungannya saat ini.  dan ia beranggapan orang-orang didesanya perlu belajar banyak kepada desa-desa diluar sana yang kelihatan sangat maju dan modern. Dengan begitu orang-orang disesanya sanggup bersaing dengan oramg-orang modern saat ini.
     Namun alangkah berbeda dengan pandangan hasan, Jali seorang sttaf marketing di Jakarta yang berasal dari daerah Condet Jakarta Timur ini, bermimpi hidup tenang di Desa yang penuh kedamaian. Ia mendambakan hidup di tengah kampong yang manusianya semi konvensional pola pikirnya, mengedepankan kebersamaan, walau tak secanggih kota-kota besar. ia bermimpi hidup di lingkunagn yang  warganya suka bergotong royong, anak-anaknya bermain dilapangan tengah kampong, atau berenang-renang kecil di pinggiran sungai. Tidak seperti lingkungannya saat ini yang isinya adalah manusia-manusia kritis yang bias akan individualism, materialism, pun kelicikan-kelicikan untuk memonopoli satu sama lain. ia penat hidup di lingkungan yang isinya berjuta-juta manusia, namun hatinya terkeping-keping untuk mengejar kepentingannya sendiri-sendiri. Walaupun ia sadar juga, bahwa sebenarnya ia adalah bagian dari jutaan manusia itu yang hilir mudik menyimpan cita-cita sunyi untuk kekayaan materi atas nama membahagiakan keluarga.
    Yang dialami hasan sebenarnya sama dengan yang dialami jali. Dan pengalaman persepsi mereka nampaknya bisa dikatakan sama dengan pengalaman saya pagi ini. Kulihat begitu susah payah seorang kuli angkut dermaga mengangkut barang barang penumpang kapal veri. Dalam kaca mata pandangku pemandangan pagi itu sungguh indah, namun apakah penilaian apa yang kulihat sama dengan yang dilihat kuli angkut pagi itu? Tentu saja tidak.

“indah birunya pagi ini, tak ubahnya seperti ratusan hari biasa yang telah lalu”

Kata kata itulah yang mungkin akan keluar di pikiran sang kuli angkut ,

Saya sering di tanya oleh teman temen , “ enak ya kerja di tempat tempat Indah?”
Terkadang sepontan saya sering jawab “ Iya senang banget”

        Padahal dalam kenyataan, indah tidak tidak indahnya sesuatu tergantung penghayatan pikiran kita atas apa yang dilihat mata, atas pengalaman suara apa yang di dengar telinga, atas ribuan fenomena yang membentuk gudang batin pengalaman hidup kita, atas apa saja yang mempengaruhi suasana dan nuansa perasaan kita.
     Bagi orang gunung , pesisir pantai mungkin adalah tempat yang indah. Tapi bagi nelayan, pantai hanya sebatas ladang kerja yang tiap hari tampak biasa biasa saja. Orang kota sering mendambakan hidup di desa, sebaliknya orang desa cukup sering mimpi hidup di kota. Orang Jawa bilang “ urip iku sawang Sinawang”. Adalah istilah untuk menggambarkan persepsi seseorang atas realitas. 
   Keinginan Jali tidak salah, pun mimpi hasan juga tidak salah. Mereka hanya mengandaikan suatu hal baru yang dianggapnya lebih baik dari yang selama ini mereka jalani.  Toh Apa bedanya hasan dan jali? Kehidupan hasan adalah bagian dari mimpi jali, sedang hidup jali, diam-diam adalah mimpinya sang Hasan. Begitulah mungkin kehidupan dari seperberapa bagian manusia di Dunia ini. kenyataan selalu tidak tampak seperti aslinya dipandangan orang lain. namun terlepas dari itu semua, kenyataan akan terus berjalan sebagaimana adanya walaupun seribu kaca mata pandang menyerbu untuk mengakuinya.


Lingga, 19 Desember 2017

Kamis, 02 Agustus 2018

Harta Karun Tersembunyi Pulau Singkep


Harta Karun Tersembunyi Pulau Singkep
 Sudah hampir 10 bulan saya bertugas di Singkep kepulaan Riau. Pulau yang terkenal dimata dunia dengan tambang timahnya 200 tahun silam. Terpampang jelas peninggalan peninggalan masa itu. Bangunan bangunan  tua ala belanda, titik titik danau bekas galian timah, infrastuktur tua yang tercetak mewah dijamannya. Tidak banyak yang saya ketahui tentang sejarah singkep, namun kabarnya setelah diberhentikan aktivitas penambangan sejak tahun 1990 an, daerah ini mendadak sepi dari penghuni. Informasinya ada ribuan warga Singkep yang eksodus ke daerah lain.

Singkep terpuruk secara ekonomi  waktu itu. Beberapa orang yang pernah saya temui mengatakan bahwa sebagian besar warga singkep wktu itu tidak pernah membayangkan kalau penambangan timah akan dinonaktivkan. Singkep mengalami shocking secara ekonomi dan kebiasaan kerja hingga bertahun-tahun. Dan hingga kini mereka terus berjuang, untuk tidak hanya meratapi kejayaan masa lalu, melainkan terus berproses mencari, menggali, dan menemukan kembali rahmat Tuhan bagi anak cucu masa depan singkep.

Banyak ide dan gagasan yang ditawarkan oleh para ahli demi menghidupkan gairah hidup pulau singkep. Perencanaan pariwisata, hingga penngunaan kawasan agraria ex tambang timah pun tak luput dari sorotan. Ribuan ha lahan dibuka sebagai kawasan sawah , perkebunan, peternakan dan pengembangan buah-buahan. Usaha-usaha ini dilakukan untuk menarik minat warga agar ikut serta mengembangkan sertor agraris sebagai penopang ekonomi masyarakat.

Namun tak ada jalan setapak yang tak berhiasi kerikil kerikil. Ada saja kendala yang harus dihadapi. Kawaasan bekas tambang timah dengan tingkat kesuburan tanah yang rendah, irigasi-irigasi air yang berwarna merah dengan kandungan besi yang tinggi, adalah PR besar bagi pengembangan pertanian di kawasan Singkep. Belum lagi minat warga yang rendah karena memang secara kultur budaya bukan masyarakat agraris. Pun Investor dan Permodalan yang tidak sedikit diperlukan untuk mewujudkan cita-cita besar ini.

Mengenang kejayaan masa lampau tentu tidak salah, yang tidak benar adalah meratapi dan sekedar menangisi kejayaan yang tidak akan kembali. Mari kita melangkah, mengais usaha selagi bisa, walau kadang semangat mulai mengelucat, cita cita bersama tetap  harus membara. Dan akhirnya yang paling penting dari itu semua adalah menemukan kembali Harta karun Singkep yang tersembunyi. Harta yang terkeping-keping entah kemana. Harta kesungguhan segenap lapisan masyarakat singkep untuk benar-benar mau menggali, mencari solusi dan menikmati indahnya bercita-cita. Harta jiwa untuk berbesar hati memandang tanah air sebagai titipan Tuhan yang harus menjadi rahmat bagi semesta.  
Singkep, Kepri,  3 Agustus 2018