Sabtu, 12 Agustus 2017

Sang Kutu pun ikut Berdo’a

Perempuan tua itu memandang langit yang jauhnya tak di jangkau angan-angannya. Matanya menatap tajam seakan marah dengan sesuatu yang ada di atas sana. Ada sesuatu yang ada dalam benaknya yang sepertinya ingin di sampaikan oleh entah Siapa yang ada disana. Matanya mengandung air hangat penuh harap, cemas, kegalauan, dan mungkin juga kecewa. Sambil mulutnya menelan ludah Kemudian dia menujukan pandanganya ke sekitarnya, dia merasa waktunya telah tiba untuk pulang. Senja kembali mengunjungi harinya. Suaminya yang buta, mungkin juga sudah cemas menunggunya di rumah.
Sore itu dia berjalan pulang menyusuri pemantang sawah di ujung desanya, sambil menggendong karung berisi rumput untuk oleh-oleh kambingnya di rumah. Senyum kecut kadang terlihat di bibirnya, sepi dan pilu  mungkin menyeruak dalam hatinya. Bagaimana tidak, dirinya yang mulai renta dan suaminya yang buta, telah 10 hari di tinggal mati anak semata wayangnya yang merantau di papua. Dan pahitnya lagi dia tidak mempunyai saudara lagi yang bisa menjamin kehidupanya.  Namun apa daya, dia tidak bisa mengubaah taqdir, mungkin inilah jalan hidupnya. Mimpinya saat ini  bukan lagi ingin mempunyai prabot rumah tangga yang layak ,kendaraan, atau memiliki rumah tinggal yang bagus, mimpinya adalah dia ingin agar dianugrahi Tuhan kesabaran untuk menjali hidup dan  menyelesaikan taqdirnya di dunia ini bersama suaminya.
Maka sesampainya di rumah dia segera memberikan rumput itu kepada kambingnya dan segera membersihkan badanya. Selanjutnya dia segera masak untuk makan malam dengan suaminya. Setelah itu dia  membersihan daun kelapa untuk d iambi lidinya dan kemudian dikatnya dengan ukuran tertentu, karena esok  dia akan membawanya ke pasar. Di tukarkan dengan harta yang tak seberapa nilainya untuk menyambung hidup bersama suaminya.
Di penghujung malam biasanya dia  terbangun, dan memang benar dia terbagun dari tidurnya yang tak lelap,  kemudian mengambil air untuk membasuh wajahnya, tanganya, hingga beberapa bagian tubuh lainya,  mungkin juga diiringi niat dalam hatinya sebagai prosedur untuk mensucikan diri sebelum menghadap sang Maha Suci yang Mengatur segala-galanya. Malam itu dia bersimpuh di dipan reot dalam kamarnya, menegadahkan tangan dan wajahnya, kemudian terdengar bibirnya berucap berat “ wahai tuhan, Allah, tidak ada tuhan selain engkau, dan sungguh aku ini adalah termasuk orang-rang yang dzolim” wahai tuhan yang mengatur segalanya, yang maha pengasih dan penyayang, yang mendengar setiap keluh kesah hamba-hambanya, aku hanya ingin mengatakan kepadamu, bahwa hidupku terasa berat, aku hampir saja tidak bisa melanjutkanya, dunia yang kau berikan kepadaku begitu membuat aku pilu, namun wahai tuhan, apa boleh buat aku adalah mahluk yang tidak bisa berbuat apa-apa, maka doaku malam ini bukan untuk meminta ini, atau meminta itu, aku hanya ingin agar engkau anugrahkan kesabaran kepadaku untuk menerima nasib yang kualami ini, buatlah aku bersyukur atas apapun yang aku punyai saat ini walaupun pahit adanya, kemudian buatlah aku tersenyum dengan semuanya ini hingga suatu hari aku benar-benar bertemu dengan-Mu dan mengetahui jawaban atas semuanya ini.
Aku yang mengikutinya sejak pagi pun merasa sangat kasihan kepadanya,  tidak hanya betapa berat hidupnya, namun lebih dari itu, aku memikirkan seberapa lama dia akan menanggung beban berat itu dalam hidupnya. Namun aku yakin, bahwa Tuhan yang menciptakanku dan semuanya ini pasti akan memberikan yang terbaik untuknya. Mungkin ini semua terjadi karena Tuhan sangat menyayanginya,  mungkin Tuhan tidak ingin memberi kenikmatan dunia kepada perempuan itu karena kenikmatan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan Akhirat, dan tuhan ingin memberikan kenikmatan akhirat secara penuh kepadanya, tanpa menguranginya  dengan ganti apapun termasuk kenikmatan dunia yang sementara ini.

Mendengar desahan doa terahir dari mulutnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali ikut mengucap “ amin, kabulkan wahai tuhanku” dalam bentuk suara yang tidak didengarnya, tidak pula dipahaminya, namun Tuhan pasti mendengar dan memahami ucapanku, karena aku termasuk mahluk-Nya yang ditaqdirkan hidup di dunia ini sebagai Kutu yang menempel di rambut kepala sang Perempuan tua itu. “ Amin- amin, ya Tuhan”

Senin, 17 Juli 2017

Agar Laku Dimata Tuhan

Agar Aku Laku,
Waktu  saya kecil, saya selalu ingat bahwa satu hal yang sering diingatkan oleh bapak saya adalah “ yang penting dalam hidup ini adalah mengaji, bahkan walaupun tak sanggup sekolah” . maka sampai saya beranjak remaja dan lulus SD saya hamper tidak ada kemauan untuk melanjutkan sekalah formal. Entah bagaimana yang dipikirkan orang tua saya waktu itu sehingga yang dia katakana pada anaknya hanya tentang pentingnya mengaji. Tapi perkiraanku adalah karena mereka pasti tidak akan mampu menyekolahkanku hingga SLTA bahkan perguruaan Tinggi.
 Waktu berjalan dan saya akhirnya melanjutkan hingga ke perguruan Tinggi tidak atas kemampuanku sendiri melainkan atas kemampuan dan Kemauan Tuhan.  Dan satu hal penting dari semua pendidikan saya saya peroleh mulai sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi  adalah kita  dididik untuk bisa memasarkan diri, agar diri kita laku, agar diri kita dipandang mampu untuk ikut andil dalam mengekploitasi modernitas Zaman.  Terlepas dari keahlian saya dalam berbahasa, ilmu hitung, dan lainnya, namun itu semua hanya pendukung.
Maka semua bergerak menuju arus yang sama yaitu bahwa “ agar aku laku”. Termasuk hingga kita harus membelakangi tuhan untuk supaya mendukung kita dalam menjual diri kepada dunia.  Kita sholat tahajut agar kita diterima kerja, kita sholat dhuha agar tender perusahaan kita tembus, kita bersedekah agar harta kita berlipat ganda,  dan kita menginfaqkan harta kita yang bermilyar-milyar itu untuk membangun masjid agar kita juga punya rumah mewah di kehidupan berikutnya. Dan kita mengira bahwa bila semua itu terlaksana maka kita bisa terseyum dihadapan malaikat Maut kita.
Tidak kah kamu ingat bahwa kekasih sang pembuat Bumi dan seisinya, baginda Nur Muhammad yang dijamin surga dan yang api neraka kharam atasnya, menanggung kesakitan diakhir perjuangan hidupnya di bumi, yang wajahnya sedih mengingat umatnya, sampai detik ajalnya dia terus mengucap “ummati, Ummati”.  Maka apa yang kau harapkan dari Tahajudmu, Dhuhamu, Sedekahmu, dan Infaqmu itu bila kau mengaku pengikut ajaran Muhammad.
 Surga kah?
Maka disela-sela pikiran ngalor ngidulku itu, aku teringat kata –kata Bapakku “ yang penting mengaji”. Mengaji itu bersal dari kata “Aji” , dalam bahasa Indonesia saya menyamakan dengan “nilai”. Maka kalau kata “aji” di beri awalah “meng” berati kita dituntut melakukan sesuatu amal perbuatan yang membuat diri kita Aji atau bernilai. Namun bila kau menganggap bahwa orang bernilai adalah orang yang bergelar doctor, professor, menjadi Gubenur, presiden, mempunyai perusahaan benefit yang beromset tryliunan rupiah, maka semoga kau diberi kesempatan Tuhan untuk merenungkannya kembali.
Karena mengaji adalah proses menyepuh yang keberhasilannya tidak diketahui oleh penyepuhnya. Mengaji adalah proses menuju manusia yang laku di mata sang pembuat kehidupan. Mengaji adalah proses memperilakukan diri agar diakui “ummati” oleh Kanjeng Baginda Muhammad di alam berikutnya. Mengaji adalah proses membuat nilai yang hasilnya baru kita ketahui ketika kita melawati pintu kepastian yang kita sebut kematian. Dan akhirnya “Mengaji “ adalah suatu metode untuk sanggup memetik hasil dalam lingkaran Siklus “Inna lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un”.



Padang, 18 Juli 2017.