Minggu, 31 Maret 2019

Mengalir tidak seperti Tai


Sembari nyruput teh susu yang baru dipesannya tadi, sudrun bergumam pada sarkidi, “ iya di, kita itu mengalir saja, gak usah pusing ini, pengen bertindak itu, berinisiatif ini itu”.

“iya ya kang” timpal sarkidi
“Wong  dulu saya juga gak tahu kalau bakal kerja ditempat ini, ketemu sampean, kang di”
“tapi kang”
“Tapi apa?”
“Kalau kita mengalir saja, terus buat apa Tuhan memberi kita tangan, kaki, mata, telinga, pikiran dan hati”
“ ya buat mengalir”
“mengalir?”
“ iya mengalir, bukan mengalir macam tai disungai depan rumah sampean ya kang”
“terus?”

“Kita itu terkadang bingung sedndiri dengan anggapan-anggapan kita sendiri tentang hidup kang, kita ini merasa tersiksa dengan kenyataan hidup kita, kita sering mendambakan kenyataan-kenyataan lain yang jelas belum pasti terjadi, atas kebingungan itu kita berinisiatif ini itu, bertindak kesana kesini agar menemukan kenyataan yang sesuai dengan keinginan kita.”

“hmmm”

Padahal untuk apa kita sibukkan hati dan pikiran kita untuk meratapi kemiskinan? Bukankan yang perlu kita gerakkan adalah kaki, dan tangan dengan sedikit pikiran? Selebihnya kita alirkan masa depan yang pasti datang dari Tuhan. Biarkan Dia menjalankan ketentuan terbaik atas ciptaannya menurut –Nya. Bukankah  tak ada sesuatu yang terbaik kecuali menurut-Nya?

“ iya kang, tapi kalau saya miskin, kan anak dan istri saya sengsara?”
“ ya kalau udah miskin, jangan tambah miskin dong di hadapan Tuhan? Udah miskin, stress pula oleh kemiskinan”

“Terus?”
“begini kang, Kita ini takut hidup kita didunia akan selamanya miskin, lalu atas ketakutan itu kita berinisiatif mencari kerja ini, usaha itu, nyenggol sana, nyerobot si A dan Si B. hingga kita lupa bahwa Tuhan telah memberi rahasia hidup di dunia untuk mengalir. Mengalir pada muara firman “ tidak ku ciptakan jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” . kita boleh saja bekerja sana-sini pakai kaki, pakai tangan, pun juga pikiran dan hati, tapi kita kan sejatinya mengalir dalam siklus sungai Innalillahi wainna ilaihi Roji’un? Dari hulu penciptaan Tuhan dam kembali ke muara yaitu Tuhan itu sendiri. “

Setelah berkata panjang lebar, sudrun menoleh kepada sarkidi
“ loh piye leh kang di, kok malah cengengesan?”
“hehehe”
“ jadi kang?”
“hehehe” gak tahu kang, saya bingung
Lingga, 4 januari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar