Jumat, 20 Maret 2020

Iman dan Pagebluk Covid 19


Awalnya saya tak berniat sama sekali menulis tentang pandemi  covid 19 ,  karena sudah banyak pembahasan mengenai hal ini dan terlebih lagi tak ada pengetahuan saya mengenai hal ini kecuali hal hal sepele  tentang kota asal virus dan kapan virus  ini muncul. Namun karena begitu banyaknya seliweran pandangan teman2 mengenai hal ini, baik yang sifatnya manipulatif dan cenderung bikin gaduh  maupun yang faktual, membuat saya geram untuk ikut serta meluapkan unek-unek saya. Melalui tulisan ini saya tidak bermaksud membagikan pikiran saya mengenai hal ini, terlebiih agar dibaca orang, namun lebih pada pelampiasan pikiran saya pribadi agar tidak ndongkol melihat banyak orang merasa paling mengerti tentang   Pandemi ini dan cenderung menyepelekan.

Sejak munculnya pertama kali dikota Wuhan pada akhir tahun 2019 , tercatat sudah ratusan ribu orang disluruh penjuru dunia terinfeksi. Setidaknya 8 ribuan orang meninggal , dan puluhan ribu lainnya sembuh.  Sebagai orang awam yang punya keluarga diberbagai kota tentu saya cukup mawas dengan mewabahnya virus ini. Apalagi berkaca dari peradaban sebelumnya bahwa  pandemi  semacam ini (Influenza ,1918)  pernah menghantui Dunia kala itu, yang dikabarkan merenggut puluhan juta jiwa diseluruh dunia.  

Sebelum menulis ini saya sempat membaca pesan dari guru saya bahwa dengan keterbatasan pengetahuan kita mengenai virus ini, seyogyanya kita meneliti secara sederhana tentang Apa itu Covid 19,  dari mana asal sejatinya, mengapa hari ini disebarkan? Atas izin siapa mahluk tak kasat mata ini mewabah keseluruh dunia? bagaimana Akibatnya, dan apa penyebabnya?  Secara Teologis, Apakah ada hubungannya dengan Tuhan? Bagi siapa saja terdampak virus ini, ternilai apakah wabah ini? Ujian atau Musibahkah?

Berbekal pertanyaan-peranyaan itu dan keyakinan saya tentang sangkan paraning kehidupan, maka tak ada pilihan bagi saya kecuali percaya  bahwai semua ini harus kita terima sebagai  ujian  agar  tidak sembrono terhadap apa saja ciptaan Tuhan. Agar supaya kita belajar bahwa sesuatu yang kecil , bahkan lebih kecil dari lalat, belum pasti bisa dikalahkan oleh yang besar.

Maka ditengah kewaspadaan terhadap covid 19 ini terkadang saya masih heran, melihat orang yang gemede rumongso (GR) merasa paling beriman dan disayang Tuhan. Menyepelekan ini itu ,hanya karena ia belum mengalaminya. Lalu tegas berkata “ Corona hanya hal sepele yang dibesar-besarkan, tak perlu ditakuti, dan hanya takutlah pada Allah”.
Dengan fenomena ini tentu saya berusaha berperasangka baik untuk tidak menilai bahwa itu suatu ketakkaburan dan kecongka’an. Mungkin mereka yang berkata demikian memang sejatinya kuat imannya dan lebih pada ingin meningkatkan semangat ubudiah ditengah pagebluk covid 19. Namun alangkah baiknya dengan rasa kuat iman itu, kita juga menjaga sikap untuk tetap waspada pada apa saja yang berpotensi mengganggu kemaslahatan bersama. Kita maksimalkan anugrah akal kita untuk berikhtiyar semampu kita, agar supaya sebanyak mungkin orang terhindar dari wabah penyakit ini. Karena bukankah kita yang merasa takut pada Allah dan tidak takut atas kematian, adalah kita yang juga siap  merawat dan melanjutkan kehidupan?

Dan akhirnya, meskipun masih banyak orang berkeliaran dengan jumawa membanggakan kehebatannya, saya sebagai manusia yang sadar atas kelemahan, berdo’a agar Tuhan memberi pertolongan sehingga wabah covid 19 segera bisa diatasi. Kita bisa hidup kembali seperti sedia kala, berkumpul bersama keluarga, melanjutkan sisa usia dengan mawas diri sebesar-besarnya.

Pedalaman Indonesia, 20 Maret 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar