Sembari
nyruput teh susu yang baru dipesannya tadi, sudrun bergumam pada sarkidi, “ iya
di, kita itu mengalir saja, gak usah pusing ini, pengen bertindak itu,
berinisiatif ini itu”.
“iya
ya kang” timpal sarkidi
“Wong dulu saya juga gak tahu kalau bakal kerja
ditempat ini, ketemu sampean, kang di”
“tapi
kang”
“Tapi
apa?”
“Kalau
kita mengalir saja, terus buat apa Tuhan memberi kita tangan, kaki, mata,
telinga, pikiran dan hati”
“
ya buat mengalir”
“mengalir?”
“
iya mengalir, bukan mengalir macam tai disungai depan rumah sampean ya kang”
“terus?”
“Kita
itu terkadang bingung sedndiri dengan anggapan-anggapan kita sendiri tentang
hidup kang, kita ini merasa tersiksa dengan kenyataan hidup kita, kita sering
mendambakan kenyataan-kenyataan lain yang jelas belum pasti terjadi, atas
kebingungan itu kita berinisiatif ini itu, bertindak kesana kesini agar
menemukan kenyataan yang sesuai dengan keinginan kita.”
“hmmm”
Padahal
untuk apa kita sibukkan hati dan pikiran kita untuk meratapi kemiskinan?
Bukankan yang perlu kita gerakkan adalah kaki, dan tangan dengan sedikit
pikiran? Selebihnya kita alirkan masa depan yang pasti datang dari Tuhan. Biarkan Dia
menjalankan ketentuan terbaik atas ciptaannya menurut –Nya. Bukankah tak ada sesuatu yang terbaik kecuali
menurut-Nya?
“
iya kang, tapi kalau saya miskin, kan anak dan istri saya sengsara?”
“
ya kalau udah miskin, jangan tambah miskin dong di hadapan Tuhan? Udah miskin,
stress pula oleh kemiskinan”
“Terus?”
“begini
kang, Kita ini takut hidup kita didunia akan selamanya miskin, lalu atas
ketakutan itu kita berinisiatif mencari kerja ini, usaha itu, nyenggol sana,
nyerobot si A dan Si B. hingga kita lupa bahwa Tuhan telah memberi rahasia
hidup di dunia untuk mengalir. Mengalir pada muara firman “ tidak ku ciptakan jin dan Manusia kecuali
untuk beribadah kepada-Ku” . kita boleh saja bekerja sana-sini pakai kaki,
pakai tangan, pun juga pikiran dan hati, tapi kita kan sejatinya mengalir dalam
siklus sungai Innalillahi wainna ilaihi
Roji’un? Dari hulu penciptaan Tuhan dam kembali ke muara yaitu Tuhan itu
sendiri. “
Setelah
berkata panjang lebar, sudrun menoleh kepada sarkidi
“
loh piye leh kang di, kok malah cengengesan?”
“hehehe”
“
jadi kang?”
“hehehe”
gak tahu kang, saya bingung
Lingga,
4 januari 2018