Agar Aku Laku,
Waktu saya kecil, saya selalu ingat bahwa satu hal
yang sering diingatkan oleh bapak saya adalah “ yang penting dalam hidup ini
adalah mengaji, bahkan walaupun tak sanggup sekolah” . maka sampai saya
beranjak remaja dan lulus SD saya hamper tidak ada kemauan untuk melanjutkan
sekalah formal. Entah bagaimana yang dipikirkan orang tua saya waktu itu
sehingga yang dia katakana pada anaknya hanya tentang pentingnya mengaji. Tapi
perkiraanku adalah karena mereka pasti tidak akan mampu menyekolahkanku hingga
SLTA bahkan perguruaan Tinggi.
Waktu berjalan dan saya akhirnya melanjutkan
hingga ke perguruan Tinggi tidak atas kemampuanku sendiri melainkan atas
kemampuan dan Kemauan Tuhan. Dan satu
hal penting dari semua pendidikan saya saya peroleh mulai sekolah Dasar hingga
Perguruan Tinggi adalah kita dididik untuk bisa memasarkan diri, agar diri
kita laku, agar diri kita dipandang mampu untuk ikut andil dalam mengekploitasi
modernitas Zaman. Terlepas dari keahlian
saya dalam berbahasa, ilmu hitung, dan lainnya, namun itu semua hanya
pendukung.
Maka semua
bergerak menuju arus yang sama yaitu bahwa “ agar aku laku”. Termasuk hingga
kita harus membelakangi tuhan untuk supaya mendukung kita dalam menjual diri
kepada dunia. Kita sholat tahajut agar
kita diterima kerja, kita sholat dhuha agar tender perusahaan kita tembus, kita
bersedekah agar harta kita berlipat ganda, dan kita menginfaqkan harta kita yang
bermilyar-milyar itu untuk membangun masjid agar kita juga punya rumah mewah di
kehidupan berikutnya. Dan kita mengira bahwa bila semua itu terlaksana maka
kita bisa terseyum dihadapan malaikat Maut kita.
Tidak kah kamu
ingat bahwa kekasih sang pembuat Bumi dan seisinya, baginda Nur Muhammad yang
dijamin surga dan yang api neraka kharam atasnya, menanggung kesakitan diakhir
perjuangan hidupnya di bumi, yang wajahnya sedih mengingat umatnya, sampai
detik ajalnya dia terus mengucap “ummati, Ummati”. Maka apa yang kau harapkan dari Tahajudmu,
Dhuhamu, Sedekahmu, dan Infaqmu itu bila kau mengaku pengikut ajaran Muhammad.
Surga kah?
Maka disela-sela
pikiran ngalor ngidulku itu, aku teringat kata –kata Bapakku “ yang penting
mengaji”. Mengaji itu bersal dari kata “Aji” , dalam bahasa Indonesia saya
menyamakan dengan “nilai”. Maka kalau kata “aji” di beri awalah “meng” berati kita
dituntut melakukan sesuatu amal perbuatan yang membuat diri kita Aji atau
bernilai. Namun bila kau menganggap bahwa orang bernilai adalah orang yang
bergelar doctor, professor, menjadi Gubenur, presiden, mempunyai perusahaan
benefit yang beromset tryliunan rupiah, maka semoga kau diberi kesempatan Tuhan
untuk merenungkannya kembali.
Karena mengaji
adalah proses menyepuh yang keberhasilannya tidak diketahui oleh penyepuhnya. Mengaji
adalah proses menuju manusia yang laku di mata sang pembuat kehidupan. Mengaji adalah
proses memperilakukan diri agar diakui “ummati” oleh Kanjeng Baginda Muhammad
di alam berikutnya. Mengaji adalah proses membuat nilai yang hasilnya baru kita
ketahui ketika kita melawati pintu kepastian yang kita sebut kematian. Dan akhirnya
“Mengaji “ adalah suatu metode untuk sanggup memetik hasil dalam lingkaran
Siklus “Inna lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un”.
Padang, 18 Juli 2017.