Senin, 17 Juli 2017

Agar Laku Dimata Tuhan

Agar Aku Laku,
Waktu  saya kecil, saya selalu ingat bahwa satu hal yang sering diingatkan oleh bapak saya adalah “ yang penting dalam hidup ini adalah mengaji, bahkan walaupun tak sanggup sekolah” . maka sampai saya beranjak remaja dan lulus SD saya hamper tidak ada kemauan untuk melanjutkan sekalah formal. Entah bagaimana yang dipikirkan orang tua saya waktu itu sehingga yang dia katakana pada anaknya hanya tentang pentingnya mengaji. Tapi perkiraanku adalah karena mereka pasti tidak akan mampu menyekolahkanku hingga SLTA bahkan perguruaan Tinggi.
 Waktu berjalan dan saya akhirnya melanjutkan hingga ke perguruan Tinggi tidak atas kemampuanku sendiri melainkan atas kemampuan dan Kemauan Tuhan.  Dan satu hal penting dari semua pendidikan saya saya peroleh mulai sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi  adalah kita  dididik untuk bisa memasarkan diri, agar diri kita laku, agar diri kita dipandang mampu untuk ikut andil dalam mengekploitasi modernitas Zaman.  Terlepas dari keahlian saya dalam berbahasa, ilmu hitung, dan lainnya, namun itu semua hanya pendukung.
Maka semua bergerak menuju arus yang sama yaitu bahwa “ agar aku laku”. Termasuk hingga kita harus membelakangi tuhan untuk supaya mendukung kita dalam menjual diri kepada dunia.  Kita sholat tahajut agar kita diterima kerja, kita sholat dhuha agar tender perusahaan kita tembus, kita bersedekah agar harta kita berlipat ganda,  dan kita menginfaqkan harta kita yang bermilyar-milyar itu untuk membangun masjid agar kita juga punya rumah mewah di kehidupan berikutnya. Dan kita mengira bahwa bila semua itu terlaksana maka kita bisa terseyum dihadapan malaikat Maut kita.
Tidak kah kamu ingat bahwa kekasih sang pembuat Bumi dan seisinya, baginda Nur Muhammad yang dijamin surga dan yang api neraka kharam atasnya, menanggung kesakitan diakhir perjuangan hidupnya di bumi, yang wajahnya sedih mengingat umatnya, sampai detik ajalnya dia terus mengucap “ummati, Ummati”.  Maka apa yang kau harapkan dari Tahajudmu, Dhuhamu, Sedekahmu, dan Infaqmu itu bila kau mengaku pengikut ajaran Muhammad.
 Surga kah?
Maka disela-sela pikiran ngalor ngidulku itu, aku teringat kata –kata Bapakku “ yang penting mengaji”. Mengaji itu bersal dari kata “Aji” , dalam bahasa Indonesia saya menyamakan dengan “nilai”. Maka kalau kata “aji” di beri awalah “meng” berati kita dituntut melakukan sesuatu amal perbuatan yang membuat diri kita Aji atau bernilai. Namun bila kau menganggap bahwa orang bernilai adalah orang yang bergelar doctor, professor, menjadi Gubenur, presiden, mempunyai perusahaan benefit yang beromset tryliunan rupiah, maka semoga kau diberi kesempatan Tuhan untuk merenungkannya kembali.
Karena mengaji adalah proses menyepuh yang keberhasilannya tidak diketahui oleh penyepuhnya. Mengaji adalah proses menuju manusia yang laku di mata sang pembuat kehidupan. Mengaji adalah proses memperilakukan diri agar diakui “ummati” oleh Kanjeng Baginda Muhammad di alam berikutnya. Mengaji adalah proses membuat nilai yang hasilnya baru kita ketahui ketika kita melawati pintu kepastian yang kita sebut kematian. Dan akhirnya “Mengaji “ adalah suatu metode untuk sanggup memetik hasil dalam lingkaran Siklus “Inna lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un”.



Padang, 18 Juli 2017.