Sehabis
jamaah Magrib di surau kampungnya, tarjikun segera pulang kerumah, ia ingat bahwa saudarinya yang
tinggal di kota lai berencana menelopannya. Entah apa yang akan di bicarakan ,
ia tak tahu.
Tak
lama setelah ia berdiri di teras kecil
rumahnya,berderinglah handpone tarjikun, segeralah ia angkat..
“Hallo
mbak?”
Hallo,
Kun,
“kenapa
Mbak , kok kelihatannya ada berita penting?”
“Iya
ini kun, itu loh mbak yu mu Khotijah, masak dia Hamil lagi, padahal anak
keTiganya baru berumur 3 Tahun. Sudah
tak kasih tahu saban hari, kalau
berkeluarga , mbok di pikirkan matang-matang, biar nanti anak-anak hidup
sejaahtera, ini anak kecil-kecil, malah hamil lagi”
Dengan
Nada agak Tinggi Tarjikun menanggapi
“Loh, yang dialami mbak Khotijah gak ada yang
salah, apa buruknya hamil lagi mbak?ini
yang salah malah sampean mbak”
“loh
kamu ini gimana, nanti bagaimana dengan masa depan anak-anaknya?, kamu tahu
hidup kedepan bakal lebih susah?”
Saudara
tarjikun, adalah gambaran kita semua, ia menganggap kehamilan saudara lainnya
adalah sebuah kerugian, padahal apa buruknya sebauah kehamilan. Sekalipun
seseorang telah beranak tuju?
Saudara
Tarjikun bukan pula orang yang tak
menganut Tuhan, setiap hari ia melakukan
perintah-perintah agama. Tapi apa yang salah?
Tak
ada
Ia
hanya mengkhawatirkan masa depan sanak familinya. Ia sekedar ingin agar
saudaranya hidup sejahtera dengan pengaturan jumlah anak, ia hanya mencoba
mengingatkan kita semua, bahwa hidup lebih baik dengan perencanaan yang matang.
Ia hanya korban lingkungan peradaban yang mengaggap puncak kesuksesan hidup
adalah kesejahteraan secara materi.
Padahal
alangkah baiknya, dengan pikiran kita tentang perencanan hidup, diiringi pula
dengan kekritisan terhadap pikiran kita sendiri.
Kalau
kita bertuhan, maka yang menjadi seluruh pertimbangan hidup kita adalah kaca
mata pandang Tuhan. Mana Yang di wajibkan Tuhan, dan mana yang Disunahkan
Tuhan, dan mana yang di bolehkan Tuhan, pun mana yang dikharamkan Tuhan.
Kalau
Sejahtera, hidup damai, Kaya, masyhur,
adalah kewajiban, maka tugas kita adalah mengejarnya. Tapi kan ternyata
yang wajib atas hidup ini bukan itu
semua?
Miskin
bukan larangan, Menderita bukan sesuatu yang haram, bodoh bukan kebaikan, pun
cerdik bukan pasti juga keburukan. Kita boleh mengupanyakan kemakmuran, tapi
yang wajib kita jalankan adalah keadilan. Kita boleh meraih keindahan, tapi
yang wajib diutamakan adalah kebenaran. Hidup kita sekarang hampir saja
salah orientasi, kita diam-diam menyembah
dan mewajibkan keindahan, memuja
kenyamanan, dan mencita-citakan kemakmuran. Entah itu cara mendapatkannya lewat keadilan atau
tidak, melalui jalan yang benar atau tidak. Kita sudah memburamkan mana wajib,
mana sunnah, mana khalal, mana mubah, dan mana kharam.
Kita
terjebak pada pikiran yang maha dunia, kita bergerak berfikir, berencana hanya
berdasarkan pada rasa ingin atau tidak ingin, enak atau tidak enak, untung atau
tidak untung secara dunia. Padahal kalau kita percaya Tuhan, Dunia hanya ladang
penggembalaan kambing dan kuda jiwa kita, untuk kemudian digiring pulang bila
senja sejarah hidup kita telah datang.
Tarjikun
dan Saudaranya adalah kita semua,
Keinginan saudari Tarjikun terhadap
kesejahteraan masa depan bukanlah hal yang kharam, yang dilarang adalah
mengejar kesejahteraan dengan menghalalkan segala cara, mewajibkan kenyamanan
dengan memubahkan kelicikan. Itu lah yang kharam.
Lingga
, 30 April 2018/ 15 Sya’ban 1437 H