Sabtu, 23 Maret 2019

Sawang Sinawang, Mimpi Hasan dan Jali


Sawang Sinawang, Mimpi Hasan dan Jali

     Di tengah damai sayup kampungnya, di tengah kampong pesisir kepulauan riau, diam-diam hasan mendambakan peradaban desanya yang semakin modern. Modern sumber daya manusianya, canggih generasi mudanya, dan maju keseluruhan sistem kepemerintahan desanya, termasuk pula bangunan jalan dan infrastuktur lainnya.
   Di keheningan beranda rumahnya, ia berseloroh cerita tentang betapa gigihnya ia menyuarakan pendapat  terkait birokrasi desa yang dianggapnya kurang inovatif. Ia mendambakan mempunyai lingkungan masyarakat yang kritis akal pikirannya terhadap kehidupan. Yang itu semua dianggapnya bagian penting dari kemajuan negri.
Kaca mata pandang pikiran Hasan menganggap bahwa kemajuan masyarakat di luar sana adalah amat lebih baik dari pada  lingkungannya saat ini.  dan ia beranggapan orang-orang didesanya perlu belajar banyak kepada desa-desa diluar sana yang kelihatan sangat maju dan modern. Dengan begitu orang-orang disesanya sanggup bersaing dengan oramg-orang modern saat ini.
     Namun alangkah berbeda dengan pandangan hasan, Jali seorang sttaf marketing di Jakarta yang berasal dari daerah Condet Jakarta Timur ini, bermimpi hidup tenang di Desa yang penuh kedamaian. Ia mendambakan hidup di tengah kampong yang manusianya semi konvensional pola pikirnya, mengedepankan kebersamaan, walau tak secanggih kota-kota besar. ia bermimpi hidup di lingkunagn yang  warganya suka bergotong royong, anak-anaknya bermain dilapangan tengah kampong, atau berenang-renang kecil di pinggiran sungai. Tidak seperti lingkungannya saat ini yang isinya adalah manusia-manusia kritis yang bias akan individualism, materialism, pun kelicikan-kelicikan untuk memonopoli satu sama lain. ia penat hidup di lingkungan yang isinya berjuta-juta manusia, namun hatinya terkeping-keping untuk mengejar kepentingannya sendiri-sendiri. Walaupun ia sadar juga, bahwa sebenarnya ia adalah bagian dari jutaan manusia itu yang hilir mudik menyimpan cita-cita sunyi untuk kekayaan materi atas nama membahagiakan keluarga.
    Yang dialami hasan sebenarnya sama dengan yang dialami jali. Dan pengalaman persepsi mereka nampaknya bisa dikatakan sama dengan pengalaman saya pagi ini. Kulihat begitu susah payah seorang kuli angkut dermaga mengangkut barang barang penumpang kapal veri. Dalam kaca mata pandangku pemandangan pagi itu sungguh indah, namun apakah penilaian apa yang kulihat sama dengan yang dilihat kuli angkut pagi itu? Tentu saja tidak.

“indah birunya pagi ini, tak ubahnya seperti ratusan hari biasa yang telah lalu”

Kata kata itulah yang mungkin akan keluar di pikiran sang kuli angkut ,

Saya sering di tanya oleh teman temen , “ enak ya kerja di tempat tempat Indah?”
Terkadang sepontan saya sering jawab “ Iya senang banget”

        Padahal dalam kenyataan, indah tidak tidak indahnya sesuatu tergantung penghayatan pikiran kita atas apa yang dilihat mata, atas pengalaman suara apa yang di dengar telinga, atas ribuan fenomena yang membentuk gudang batin pengalaman hidup kita, atas apa saja yang mempengaruhi suasana dan nuansa perasaan kita.
     Bagi orang gunung , pesisir pantai mungkin adalah tempat yang indah. Tapi bagi nelayan, pantai hanya sebatas ladang kerja yang tiap hari tampak biasa biasa saja. Orang kota sering mendambakan hidup di desa, sebaliknya orang desa cukup sering mimpi hidup di kota. Orang Jawa bilang “ urip iku sawang Sinawang”. Adalah istilah untuk menggambarkan persepsi seseorang atas realitas. 
   Keinginan Jali tidak salah, pun mimpi hasan juga tidak salah. Mereka hanya mengandaikan suatu hal baru yang dianggapnya lebih baik dari yang selama ini mereka jalani.  Toh Apa bedanya hasan dan jali? Kehidupan hasan adalah bagian dari mimpi jali, sedang hidup jali, diam-diam adalah mimpinya sang Hasan. Begitulah mungkin kehidupan dari seperberapa bagian manusia di Dunia ini. kenyataan selalu tidak tampak seperti aslinya dipandangan orang lain. namun terlepas dari itu semua, kenyataan akan terus berjalan sebagaimana adanya walaupun seribu kaca mata pandang menyerbu untuk mengakuinya.


Lingga, 19 Desember 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar