Sawang Sinawang, Mimpi Hasan dan Jali
Di
tengah damai sayup kampungnya, di tengah kampong pesisir kepulauan riau,
diam-diam hasan mendambakan peradaban desanya yang semakin modern. Modern
sumber daya manusianya, canggih generasi mudanya, dan maju keseluruhan sistem kepemerintahan
desanya, termasuk pula bangunan jalan dan infrastuktur lainnya.
Di
keheningan beranda rumahnya, ia berseloroh cerita tentang betapa gigihnya ia
menyuarakan pendapat terkait birokrasi
desa yang dianggapnya kurang inovatif. Ia mendambakan mempunyai lingkungan
masyarakat yang kritis akal pikirannya terhadap kehidupan. Yang itu semua
dianggapnya bagian penting dari kemajuan negri.
Kaca
mata pandang pikiran Hasan menganggap bahwa kemajuan masyarakat di luar sana adalah
amat lebih baik dari pada lingkungannya
saat ini. dan ia beranggapan orang-orang
didesanya perlu belajar banyak kepada desa-desa diluar sana yang kelihatan
sangat maju dan modern. Dengan begitu orang-orang disesanya sanggup bersaing
dengan oramg-orang modern saat ini.
Namun
alangkah berbeda dengan pandangan hasan, Jali seorang sttaf marketing di
Jakarta yang berasal dari daerah Condet Jakarta Timur ini, bermimpi hidup
tenang di Desa yang penuh kedamaian. Ia mendambakan hidup di tengah kampong
yang manusianya semi konvensional pola pikirnya, mengedepankan kebersamaan,
walau tak secanggih kota-kota besar. ia bermimpi hidup di lingkunagn yang warganya suka bergotong royong, anak-anaknya
bermain dilapangan tengah kampong, atau berenang-renang kecil di pinggiran sungai.
Tidak seperti lingkungannya saat ini yang isinya adalah manusia-manusia kritis
yang bias akan individualism, materialism, pun kelicikan-kelicikan untuk
memonopoli satu sama lain. ia penat hidup di lingkungan yang isinya
berjuta-juta manusia, namun hatinya terkeping-keping untuk mengejar
kepentingannya sendiri-sendiri. Walaupun ia sadar juga, bahwa sebenarnya ia
adalah bagian dari jutaan manusia itu yang hilir mudik menyimpan cita-cita
sunyi untuk kekayaan materi atas nama membahagiakan keluarga.
Yang
dialami hasan sebenarnya sama dengan yang dialami jali. Dan pengalaman persepsi
mereka nampaknya bisa dikatakan sama dengan pengalaman saya pagi ini. Kulihat
begitu susah payah seorang kuli angkut dermaga mengangkut barang barang
penumpang kapal veri. Dalam kaca mata pandangku pemandangan pagi itu sungguh
indah, namun apakah penilaian apa yang kulihat sama dengan yang dilihat kuli
angkut pagi itu? Tentu saja tidak.
“indah
birunya pagi ini, tak ubahnya seperti ratusan hari biasa yang telah lalu”
Kata
kata itulah yang mungkin akan keluar di pikiran sang kuli angkut ,
Saya
sering di tanya oleh teman temen , “ enak ya kerja di tempat tempat Indah?”
Terkadang
sepontan saya sering jawab “ Iya senang banget”
Padahal
dalam kenyataan, indah tidak tidak indahnya sesuatu tergantung penghayatan
pikiran kita atas apa yang dilihat mata, atas pengalaman suara apa yang di
dengar telinga, atas ribuan fenomena yang membentuk gudang batin pengalaman
hidup kita, atas apa saja yang mempengaruhi suasana dan nuansa perasaan kita.
Bagi
orang gunung , pesisir pantai mungkin adalah tempat yang indah. Tapi bagi
nelayan, pantai hanya sebatas ladang kerja yang tiap hari tampak biasa biasa
saja. Orang kota sering mendambakan hidup di desa, sebaliknya orang desa cukup
sering mimpi hidup di kota. Orang Jawa bilang “ urip iku sawang Sinawang”.
Adalah istilah untuk menggambarkan persepsi seseorang atas realitas.
Keinginan
Jali tidak salah, pun mimpi hasan juga tidak salah. Mereka hanya mengandaikan
suatu hal baru yang dianggapnya lebih baik dari yang selama ini mereka
jalani. Toh Apa bedanya hasan dan jali? Kehidupan hasan adalah
bagian dari mimpi jali, sedang hidup jali, diam-diam adalah mimpinya sang
Hasan. Begitulah mungkin kehidupan dari seperberapa bagian manusia di Dunia
ini. kenyataan selalu tidak tampak seperti aslinya dipandangan orang lain.
namun terlepas dari itu semua, kenyataan akan terus berjalan sebagaimana adanya
walaupun seribu kaca mata pandang menyerbu untuk mengakuinya.
Lingga,
19 Desember 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar