Senin, 10 Februari 2020

Remang-Remang Wajib Mubah nya Kehidupan


Sehabis jamaah Magrib di surau kampungnya, tarjikun segera pulang  kerumah, ia ingat bahwa saudarinya yang tinggal di kota lai berencana menelopannya. Entah apa yang akan di bicarakan , ia tak tahu.

Tak lama setelah ia  berdiri di teras kecil rumahnya,berderinglah handpone tarjikun, segeralah ia angkat..
“Hallo mbak?”
Hallo, Kun,
“kenapa Mbak , kok kelihatannya ada berita penting?”
“Iya ini kun, itu loh mbak yu mu Khotijah, masak dia Hamil lagi, padahal anak keTiganya baru berumur  3 Tahun. Sudah tak kasih  tahu saban hari, kalau berkeluarga , mbok di pikirkan matang-matang, biar nanti anak-anak hidup sejaahtera, ini anak kecil-kecil, malah hamil lagi”
Dengan Nada agak Tinggi Tarjikun menanggapi

“Loh,  yang dialami mbak Khotijah gak ada yang salah, apa  buruknya hamil lagi mbak?ini yang salah malah sampean mbak”
“loh kamu ini gimana, nanti bagaimana dengan masa depan anak-anaknya?, kamu tahu hidup kedepan bakal lebih susah?”

Saudara tarjikun, adalah gambaran kita semua, ia menganggap kehamilan saudara lainnya adalah sebuah kerugian, padahal apa buruknya sebauah kehamilan. Sekalipun seseorang  telah beranak tuju?

Saudara Tarjikun  bukan pula orang yang tak menganut Tuhan,  setiap hari ia melakukan perintah-perintah agama. Tapi apa yang salah?
Tak ada

Ia hanya mengkhawatirkan masa depan sanak familinya. Ia sekedar ingin agar saudaranya hidup sejahtera dengan pengaturan jumlah anak, ia hanya mencoba mengingatkan kita semua, bahwa hidup lebih baik dengan perencanaan yang matang. Ia hanya korban lingkungan peradaban yang mengaggap puncak kesuksesan hidup adalah kesejahteraan secara materi.

Padahal alangkah baiknya, dengan pikiran kita tentang perencanan hidup, diiringi pula dengan kekritisan terhadap pikiran kita sendiri.
Kalau kita bertuhan, maka yang menjadi seluruh pertimbangan hidup kita adalah kaca mata pandang Tuhan. Mana Yang di wajibkan Tuhan, dan mana yang Disunahkan Tuhan, dan mana yang di bolehkan Tuhan, pun mana yang dikharamkan Tuhan.

Kalau Sejahtera, hidup damai, Kaya, masyhur,  adalah kewajiban, maka tugas kita adalah mengejarnya. Tapi kan ternyata yang wajib atas hidup ini  bukan itu semua?

Miskin bukan larangan, Menderita bukan sesuatu yang haram, bodoh bukan kebaikan, pun cerdik bukan pasti juga keburukan. Kita boleh mengupanyakan kemakmuran, tapi yang wajib kita jalankan adalah keadilan. Kita boleh meraih keindahan, tapi yang wajib diutamakan adalah kebenaran. Hidup kita sekarang hampir saja salah  orientasi, kita diam-diam menyembah dan mewajibkan  keindahan, memuja kenyamanan, dan mencita-citakan kemakmuran. Entah  itu cara mendapatkannya lewat keadilan atau tidak, melalui jalan yang benar atau tidak. Kita sudah memburamkan mana wajib, mana sunnah, mana khalal, mana mubah, dan mana kharam.

Kita terjebak pada pikiran yang maha dunia, kita bergerak berfikir, berencana hanya berdasarkan pada rasa ingin atau tidak ingin, enak atau tidak enak, untung atau tidak untung secara dunia. Padahal kalau kita percaya Tuhan, Dunia hanya ladang penggembalaan kambing dan kuda jiwa kita, untuk kemudian digiring pulang bila senja sejarah hidup kita telah datang.

Tarjikun dan Saudaranya adalah kita semua,
Keinginan saudari Tarjikun terhadap kesejahteraan masa depan bukanlah hal yang kharam, yang dilarang adalah mengejar kesejahteraan dengan menghalalkan segala cara, mewajibkan kenyamanan dengan memubahkan kelicikan. Itu lah yang kharam.


Lingga , 30 April 2018/ 15 Sya’ban 1437 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar