Suatu hari di tengah tugas kerja di pedalaman Riau, saya
bertemu dengan pemuda perantau dari daerah selatan jawa tengah. Kuliat sorot
matanya yang tajam dengan kulit tubuhnya yang hitam legam, tampaknya ia adalah
sang pekerja keras. Beberapa waktu kami sempat berbincang ringan hingga akrab
satu sama lain, sampai suatu saat saya pernah bertanya dengannya perihal “Apa
Cita-Cita mu waktu Kecil?”
Dan hari itu kusadari untuk kesekian kalinya bahwa Tuhan
menaqdirkan manusianya dengan berbagai keunikan berpikir, psikologis, dan
berbagai laku hidup. Sundusin bercerita
panjang perihal kehidupan masa kecil dan
beberapa keyakinan hidupnya. Tentu saja yang saya tulis ini tidak sepenuhnya
mewakili kisah hidupnya apalagi keseluruhan psikologisnya , hanya tulisan
ringan tentang pandangan saya terhadapnya yang tentu saja sangat subjektif.
Bagi
Sundusin memandang cita-cita adalah
hanya sebatas keinginan yang sifatnya
kekanak-kanakan. Maka tak wajib tercapai. Ia beranggapan bahwa orang
bercita-cita adalah orang yang fokus
dengan kantong berasnya sendiri ditengah jutaan mahkluk yang juga mencari
kantong berasnya masing-masing. ia hampir saja memandang hina melihat amat banyak orang menjalani hidup
berdasarkan keinginan pribadi yang pangkalnya adalah cita-cita. Dan berdasar cita-cita itu mereka egois satu sama lain.
Ditengah
ribuan orang didesanya, pikiran sundusin terbilang sangat frontal berbeda
diantara orang-orang lainnya. Mungkin pandangan
sundusin yang semacam ini juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya yang tak
pernah mengajari untuk hidup bercita-cita. Ia hidup dikeluarga petani miskin
yang menanamkan nilai-nilai amat sederhana: yaitu hidup berdasar “ apa
kewajiban manusia hidup, dan mana yang lebih penting dalam hidup ini untuk dijalani”.
Ajaran nilai inipun bukan ilham yang didapatkan keluarga ini dari sang Wali dalam mimpi, melainkan
karena garis kemiskinan yang diputuskan Tuhan untuk dilalui. Sehingga mereka
tak mampu memberi kesempatan anak-anaknya berkeinginan ini dan itu.
Hingga
remaja sundusin selalu ingat ajaran penting bapaknya, bahwa hidup harus
mengaji, bekerja, berdo’a agar hidup
mulia . Bersama kakak dan adiknya, ia menjalani masa kecil yang jauh dari
keinginan-keinginan, bahkan lebih banyak keterbatasan. Namun di tengah keterbatasan itu ia tetap tidak
merepotkan siapa saja apalagi merugikan sesama manusia.
Maka
amat kagetlah ia ketika remaja,
memasuki dunia sekolahan modern yang isinya banyak ambisi-ambisi besar.
cita-cita mentereng jadi president, jadi milyader, jadi DPR, jadi ini dan jadi
itu. Ia tak mengerti mengapa seorang harus sukses, dan wujud sukses itu adalah kebesaran , kehormatan yang puncaknya
kekayaan. Ia tak mengerti mengapa sekolahan-sekolahan mengajari
siswa-siswinya menjadi manusia-manusia
yang haus akan kesan, lewat prestasi-prestasi yang esensinya permukaan.
Pada akhirnya sundusin tak melanjutkan sekolah nya, ia
memilh bekerja merantau menjemput taqdirnya tanpa harus mabuk cita-cita. Ia
hanya lulusan SD yang sempat 1 tahun mengenyam pendidikan SLTP. Di sini ia
bekerja apa adanya, kadang kulihat ia menjadi buruh angkut kayu, kadang kulihat
ia bekerja di Tambak udang, dan tekahir ku dengar ia bekerja menjadi awak kapal
penangkap ikan yang berlayar hingga batas
perairan laut china selatan.
Dalam sepak terjang
petualangan hidupnya, Sundusin agaknya bukan tokoh yang bisa dijadikan
tauladan buat anak muda, apalagi bila
merujuk atas standart dunia modern sekarang ini. Sundusin hanyalah
potret manusia masa lampau yang terjebak di tengah rimba modernitas zaman.
Keluarganya adalah potongan peradaban masa lampau dengan alur kultur yang
kental dengan kearifan dan kenyelenehannya sendiri, lain dari keluarga
kebanyakan zaman sekarang. Mereka menatap masa depan tanpa ketakutan. Mereka
tak takut miskin, karena toh sudah berpuluh-puluh tahun mereka menikmati
kemiskinan. Mereka tak takut kerasnya perjalanan hidup, karena kaki hidup
mereka sudah mati rasa menikmati terjalnya perjalanan. Dan apakah keluarga ini Sakinah mawadah , wa Rahmah? Entahlah biar Tuhan yang Tahu...
Ketika kupastikan lagi “ Apa cita cita mu Sin?”
Ia tersenyum dan menjawab pelan “ Bahagia Mengalami
Taqdirku”
Lingga, 4 Desember 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar