Kamis, 14 November 2019

Cita-Cita Sundusin


Suatu hari di tengah tugas kerja di pedalaman Riau, saya bertemu dengan pemuda perantau dari daerah selatan jawa tengah. Kuliat sorot matanya yang tajam dengan kulit tubuhnya yang hitam legam, tampaknya ia adalah sang pekerja keras. Beberapa waktu kami sempat berbincang ringan hingga akrab satu sama lain, sampai suatu saat saya pernah bertanya dengannya perihal “Apa Cita-Cita mu waktu Kecil?”

Dan hari itu kusadari untuk kesekian kalinya bahwa Tuhan menaqdirkan manusianya dengan berbagai keunikan berpikir, psikologis, dan berbagai laku hidup.  Sundusin bercerita panjang perihal kehidupan  masa kecil dan beberapa keyakinan hidupnya. Tentu saja yang saya tulis ini tidak sepenuhnya mewakili kisah hidupnya apalagi keseluruhan psikologisnya , hanya tulisan ringan tentang pandangan saya terhadapnya yang tentu saja sangat subjektif.
Bagi Sundusin memandang cita-cita adalah  hanya sebatas keinginan yang sifatnya  kekanak-kanakan. Maka tak wajib tercapai. Ia beranggapan bahwa orang bercita-cita adalah orang yang  fokus dengan kantong berasnya sendiri  ditengah jutaan mahkluk yang juga mencari kantong berasnya masing-masing.  ia hampir saja memandang hina  melihat amat banyak orang menjalani hidup berdasarkan keinginan pribadi yang pangkalnya adalah cita-cita. Dan berdasar cita-cita itu mereka egois satu sama lain.

Ditengah ribuan orang didesanya, pikiran sundusin terbilang sangat frontal berbeda diantara orang-orang lainnya. Mungkin pandangan sundusin yang semacam ini juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya yang tak pernah mengajari untuk hidup bercita-cita. Ia hidup dikeluarga petani miskin yang menanamkan nilai-nilai amat sederhana: yaitu hidup berdasar “ apa kewajiban manusia hidup, dan mana yang lebih penting dalam hidup ini untuk dijalani”. Ajaran nilai inipun bukan ilham yang didapatkan keluarga ini dari sang Wali dalam mimpi, melainkan karena garis kemiskinan yang diputuskan Tuhan untuk dilalui. Sehingga mereka tak mampu memberi kesempatan anak-anaknya berkeinginan ini dan itu.

Hingga remaja sundusin selalu ingat ajaran penting bapaknya, bahwa hidup harus mengaji, bekerja,  berdo’a agar hidup mulia . Bersama kakak dan adiknya, ia menjalani masa kecil yang jauh dari keinginan-keinginan, bahkan lebih banyak keterbatasan. Namun di tengah keterbatasan itu ia tetap tidak merepotkan siapa saja apalagi merugikan sesama manusia.
Maka amat kagetlah ia ketika remaja, memasuki dunia sekolahan modern yang isinya banyak ambisi-ambisi besar. cita-cita mentereng jadi president, jadi milyader, jadi DPR, jadi ini dan jadi itu. Ia tak mengerti mengapa seorang harus sukses, dan wujud sukses itu adalah kebesaran , kehormatan yang puncaknya kekayaan. Ia tak mengerti mengapa sekolahan-sekolahan mengajari siswa-siswinya  menjadi manusia-manusia yang haus akan kesan, lewat prestasi-prestasi yang esensinya permukaan.

Pada akhirnya sundusin tak melanjutkan sekolah nya, ia memilh bekerja merantau menjemput taqdirnya tanpa harus mabuk cita-cita. Ia hanya lulusan SD yang sempat 1 tahun mengenyam pendidikan SLTP. Di sini ia bekerja apa adanya, kadang kulihat ia menjadi buruh angkut kayu, kadang kulihat ia bekerja di Tambak udang, dan tekahir ku dengar ia bekerja menjadi awak kapal penangkap ikan yang berlayar hingga batas  perairan laut china selatan.

Dalam sepak terjang  petualangan hidupnya, Sundusin agaknya bukan tokoh yang bisa dijadikan tauladan  buat anak muda, apalagi bila merujuk atas standart dunia modern sekarang ini. Sundusin hanyalah potret manusia masa lampau yang terjebak di tengah rimba modernitas zaman. Keluarganya adalah potongan peradaban masa lampau dengan alur kultur yang kental dengan kearifan dan kenyelenehannya sendiri, lain dari keluarga kebanyakan zaman sekarang. Mereka menatap masa depan tanpa ketakutan. Mereka tak takut miskin, karena toh sudah berpuluh-puluh tahun mereka menikmati kemiskinan. Mereka tak takut kerasnya perjalanan hidup, karena kaki hidup mereka sudah mati rasa menikmati terjalnya perjalanan. Dan apakah keluarga ini Sakinah  mawadah , wa Rahmah?  Entahlah biar Tuhan yang Tahu...
Ketika kupastikan lagi “ Apa cita cita mu Sin?”
Ia tersenyum dan menjawab pelan “ Bahagia Mengalami Taqdirku”

Lingga, 4 Desember 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar