Sabtu, 14 Maret 2020

PRODUK KAUM TERPELAJAR


masih hangat dingatan ketika kita jadi mahasiswa, saat-saat ketika jiwa muda bergelora, haus eksistensi dan cita-cita.  Menyadari hal-hal baru, tema-tema besar tentang kehidupan, ekonomi, politik, dan sosial budaya masyarakat. Saat dimana kita dengan percaya diri mengaku “ Agen Perubahan”. Bagi  yang saat jadi pelajar ngaku  seorang aktivis, tentu kenal dan karib dengan organisasi ekstra mahasiwa, baik yang nafasnya pergerakan kebangsaan, maupun yang berlabel teologis. Belajar memproses diri dan mengisi hari-hari dengan diskusi-diskusi kritis ala aktivis. Menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang saat itu kita nilai positif.

Yah sedikit banyak memang proses itu berpengaruh dalam kehidupan dikemudian hari. Apalgi dalam realita dunia kerja, kadang kita terlempar dalam kondisi geografis yang  kultur budayanya lain sama sekali dengan pengalaman hidup kita sebelumnya. berbaur dengan orang-orang multikultur yang perbedaanya tidak hanya warna kulit, namun juga keyakinan, polapikir , kebiasaan  dan kecenderungan sikap, Yang tidak jarang menmbulkan benturan-benturan dan berujung konflik.

Sebagaimana saat kita jadi pelajar, tema-tema besar tentang kehidupan pun akan muncul kehadapan kita. Bedanya , dulu tema-tema itu muncul hanya sebagai bahan diskusi namun saat ini tema itu berbenturan langsung dengan realitas kehidupan kita. Bahkan saking penatnya kita dengan benturan itu, terkadang kita lupa dan menyepelekan tema-tema yang dulunya kita  anggap besar itu.

Nah dalam kondisi seperti itulah produkmu sebagai kaum terpelajar perlu digunakan. Namun produk belajarmu bukan lagi kelihaian bibir dalam mebentuk kata kata kritis sebagamana sering kamu ucapkan ketika diskusi dengan kawan aktivismu, melainkan kebijaksanaanmu dalam menghargai ekosistem barumu, kesantunanmu dalam memaklumi kebiasaan lingkungan kerjamu, dan tindakan-tindakan yang substansinya tidak merugikan sesamamu.

bahkan ketika ada kebiasaan lingkungan barumu yang berefek negatif  pada mu, kamu tidak cukup layak untuk membalasnya sebagaimana yang terjadi kepadamu. Mengapa? Karena dari awal kau menyadari bahwa dirimu adalah orang terpelajar, yang menghabiskan banyak waktu untuk mmpelajari bagaimana sepantasnya manusia bertingkah laku. 
Dan kusadari kata-kata rumitku diatas, tak  cukup bisa menggambarkan secara jelas apa sejatinya produk kaum terpelajar, kecuali hal-hal sepele yang saya lihat, dengar, rasakan dan saya rangkaikan dalam kalimat terahir berikut.

Bukan seberapa banyak orang mengakui prestasimu, namun seberapa banyak orang merasakan manfaatmu. Membangun identitas memang penting, namun jauh lebih penting  maksimalkan daya personalitas. Karena pada akhirnya hidup bukanlah tentang siapa kita, namun lebih pada bagaimana kita.

Pedalaman Indonesia, 2 Maret 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar