masih hangat dingatan ketika
kita jadi mahasiswa, saat-saat ketika jiwa muda bergelora, haus eksistensi dan
cita-cita. Menyadari hal-hal baru,
tema-tema besar tentang kehidupan, ekonomi, politik, dan sosial budaya
masyarakat. Saat dimana kita dengan percaya diri mengaku “ Agen Perubahan”. Bagi yang saat jadi pelajar ngaku seorang aktivis, tentu kenal dan karib dengan
organisasi ekstra mahasiwa, baik yang nafasnya pergerakan kebangsaan, maupun
yang berlabel teologis. Belajar memproses diri dan mengisi hari-hari dengan
diskusi-diskusi kritis ala aktivis. Menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan
yang saat itu kita nilai positif.
Yah sedikit banyak memang proses itu
berpengaruh dalam kehidupan dikemudian hari. Apalgi dalam realita dunia kerja,
kadang kita terlempar dalam kondisi geografis yang kultur budayanya lain sama sekali dengan
pengalaman hidup kita sebelumnya. berbaur dengan orang-orang multikultur yang
perbedaanya tidak hanya warna kulit, namun juga keyakinan, polapikir , kebiasaan dan kecenderungan sikap, Yang tidak jarang
menmbulkan benturan-benturan dan berujung konflik.
Sebagaimana saat kita jadi
pelajar, tema-tema besar tentang kehidupan pun akan muncul kehadapan kita.
Bedanya , dulu tema-tema itu muncul hanya sebagai bahan diskusi namun saat ini
tema itu berbenturan langsung dengan realitas kehidupan kita. Bahkan saking
penatnya kita dengan benturan itu, terkadang kita lupa dan menyepelekan
tema-tema yang dulunya kita anggap besar
itu.
Nah dalam kondisi seperti itulah produkmu
sebagai kaum terpelajar perlu digunakan. Namun produk belajarmu bukan lagi
kelihaian bibir dalam mebentuk kata kata kritis sebagamana sering kamu ucapkan
ketika diskusi dengan kawan aktivismu, melainkan kebijaksanaanmu dalam
menghargai ekosistem barumu, kesantunanmu dalam memaklumi kebiasaan lingkungan
kerjamu, dan tindakan-tindakan yang substansinya tidak merugikan sesamamu.
bahkan ketika ada kebiasaan
lingkungan barumu yang berefek negatif pada mu, kamu tidak cukup layak untuk
membalasnya sebagaimana yang terjadi kepadamu. Mengapa? Karena dari awal kau
menyadari bahwa dirimu adalah orang terpelajar, yang menghabiskan banyak waktu
untuk mmpelajari bagaimana sepantasnya manusia bertingkah laku.
Dan kusadari kata-kata
rumitku diatas, tak cukup bisa menggambarkan
secara jelas apa sejatinya produk kaum terpelajar, kecuali hal-hal sepele yang
saya lihat, dengar, rasakan dan saya rangkaikan dalam kalimat terahir berikut.
Bukan seberapa banyak orang
mengakui prestasimu, namun seberapa banyak orang merasakan manfaatmu. Membangun
identitas memang penting, namun jauh lebih penting maksimalkan daya personalitas. Karena pada
akhirnya hidup bukanlah tentang siapa kita, namun lebih pada bagaimana kita.
Pedalaman Indonesia,
2 Maret 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar