Perempuan tua itu memandang
langit yang jauhnya tak di jangkau angan-angannya. Matanya menatap tajam seakan
marah dengan sesuatu yang ada di atas sana. Ada sesuatu yang ada dalam benaknya
yang sepertinya ingin di sampaikan oleh entah Siapa yang ada disana. Matanya
mengandung air hangat penuh harap, cemas, kegalauan, dan mungkin juga kecewa.
Sambil mulutnya menelan ludah Kemudian dia menujukan pandanganya ke sekitarnya,
dia merasa waktunya telah tiba untuk pulang. Senja kembali mengunjungi harinya.
Suaminya yang buta, mungkin juga sudah cemas menunggunya di rumah.
Sore itu dia berjalan pulang
menyusuri pemantang sawah di ujung desanya, sambil menggendong karung berisi
rumput untuk oleh-oleh kambingnya di rumah. Senyum kecut kadang terlihat di
bibirnya, sepi dan pilu mungkin
menyeruak dalam hatinya. Bagaimana tidak, dirinya yang mulai renta dan suaminya
yang buta, telah 10 hari di tinggal mati anak semata wayangnya yang merantau di
papua. Dan pahitnya lagi dia tidak mempunyai saudara lagi yang bisa menjamin
kehidupanya. Namun apa daya, dia tidak
bisa mengubaah taqdir, mungkin inilah jalan hidupnya. Mimpinya saat ini bukan lagi ingin mempunyai prabot rumah
tangga yang layak ,kendaraan, atau memiliki rumah tinggal yang bagus, mimpinya
adalah dia ingin agar dianugrahi Tuhan kesabaran untuk menjali hidup dan menyelesaikan taqdirnya di dunia ini bersama
suaminya.
Maka sesampainya di rumah
dia segera memberikan rumput itu kepada kambingnya dan segera membersihkan
badanya. Selanjutnya dia segera masak untuk makan malam dengan suaminya.
Setelah itu dia membersihan daun kelapa
untuk d iambi lidinya dan kemudian dikatnya dengan ukuran tertentu, karena
esok dia akan membawanya ke pasar. Di
tukarkan dengan harta yang tak seberapa nilainya untuk menyambung hidup bersama
suaminya.
Di penghujung malam biasanya
dia terbangun, dan memang benar dia
terbagun dari tidurnya yang tak lelap,
kemudian mengambil air untuk membasuh wajahnya, tanganya, hingga beberapa
bagian tubuh lainya, mungkin juga diiringi
niat dalam hatinya sebagai prosedur untuk mensucikan diri sebelum menghadap
sang Maha Suci yang Mengatur segala-galanya. Malam itu dia bersimpuh di dipan
reot dalam kamarnya, menegadahkan tangan dan wajahnya, kemudian terdengar
bibirnya berucap berat “ wahai tuhan, Allah, tidak ada tuhan selain engkau, dan
sungguh aku ini adalah termasuk orang-rang yang dzolim” wahai tuhan yang
mengatur segalanya, yang maha pengasih dan penyayang, yang mendengar setiap
keluh kesah hamba-hambanya, aku hanya ingin mengatakan kepadamu, bahwa hidupku
terasa berat, aku hampir saja tidak bisa melanjutkanya, dunia yang kau berikan
kepadaku begitu membuat aku pilu, namun wahai tuhan, apa boleh buat aku adalah
mahluk yang tidak bisa berbuat apa-apa, maka doaku malam ini bukan untuk
meminta ini, atau meminta itu, aku hanya ingin agar engkau anugrahkan kesabaran
kepadaku untuk menerima nasib yang kualami ini, buatlah aku bersyukur atas
apapun yang aku punyai saat ini walaupun pahit adanya, kemudian buatlah aku
tersenyum dengan semuanya ini hingga suatu hari aku benar-benar bertemu
dengan-Mu dan mengetahui jawaban atas semuanya ini.
Aku yang mengikutinya sejak
pagi pun merasa sangat kasihan kepadanya,
tidak hanya betapa berat hidupnya, namun lebih dari itu, aku memikirkan
seberapa lama dia akan menanggung beban berat itu dalam hidupnya. Namun aku
yakin, bahwa Tuhan yang menciptakanku dan semuanya ini pasti akan memberikan
yang terbaik untuknya. Mungkin ini semua terjadi karena Tuhan sangat
menyayanginya, mungkin Tuhan tidak ingin
memberi kenikmatan dunia kepada perempuan itu karena kenikmatan dunia tidak ada
apa-apanya dibandingkan kenikmatan Akhirat, dan tuhan ingin memberikan
kenikmatan akhirat secara penuh kepadanya, tanpa menguranginya dengan ganti apapun termasuk kenikmatan dunia
yang sementara ini.
Mendengar desahan doa
terahir dari mulutnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali ikut mengucap “
amin, kabulkan wahai tuhanku” dalam bentuk suara yang tidak didengarnya, tidak
pula dipahaminya, namun Tuhan pasti mendengar dan memahami ucapanku, karena aku
termasuk mahluk-Nya yang ditaqdirkan hidup di dunia ini sebagai Kutu yang
menempel di rambut kepala sang Perempuan tua itu. “ Amin- amin, ya Tuhan”